Saturday, 20 December 2014

MEMBANGUN KEMBALI IKATAN EMOSIONAL ANTARA GURU DAN SISWA

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. ( UU SISDIKNAS No.20 tahun 2003 )
Menurut kamus Bahasa Indonesia Kata pendidikan berasal dari kata ‘didik’ dan mendapat imbuhan ‘pe’ dan akhiran ‘an’, maka kata ini mempunyai arti proses atau cara atau perbuatan mendidik. Secara bahasa definisi pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.
Menurut Ki Hajar Dewantara (Bapak Pendidikan Nasional Indonesia) menjelaskan tentang pengertian pendidikan yaitu: Pendidikan yaitu tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, adapun maksudnya, pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.
Pendidikan menurut saya adalah usaha yang dilakukan secara sadar oleh Pendidik kepada Peserta didik dalam rangka mengembangkan segala potensi yang dimiliki peserta didik, baik itu dari segi fisiologis maupun psikologis sehingga akan terbangun kepribadian yang dewasa, baik secara biologis, sosiologis, fisiologis dan psikologis. Artinya, pendidikan bertujuan untuk  membimbing dan mengarahkan seseorang dari jiwa yang tidak baik menjadi jiwa yang baik, jiwa yang tidak bijak menjadi bijak dan seterusnya sehingga menjadi dewasa baik dari segi biologis, fisiologis, psikologis dan sosiologis.
Dari zaman ke zaman lembaga pendidikan semakin berkembang baik secara formal maupun non formal. Pemerintahpun telah memberikan perhatian yang sangat besar terhadap dunia pendidikan seperti dengan adanya BOS saat ini yang tujuannya tidak lain adalah agar negara Indonesia bisa maju dan berkembang dengan pesat di samping menuntaskan wajib belajar 9 tahun. Namun perjalanan pendidikan di Indonesia saat ini sungguh sangat berbeda dengan perjalanan pendidikan zaman dulu, baik dari segi pendidik maupun peserta didik. Guru yang dulu sangat dihormati, benar-benar dijadikan teladan, tapi semua itu sudah hampir sirna dari jiwa peserta didik.
 Yah.., Murid zaman dulu dengan sekarang sungguh sangat berbeda, kalau dulu sosok guru sangat dihargai dan dihormati oleh murid-muridnya bahkan bisa dikatakan disegani. Tidak ada murid yang berani meremehkan guru, kalaupun ada jumlahnya tidak seperti sekarang dimana sosok guru seakan sudah kehilangan kewibawaannya. Kedekatannyan pun sudah berbeda, kalaupun siswa dekat dengan guru mereka siswa tidak bisa membedakan antara guru dan teman mereka.
Mungkin pola pendidikan zaman dulu dengan pola pendidikan zaman sekarang berbeda. Kalau dulu guru menerapkan metode mengajar yang bisa dikatakan menggunakan disiplin militer sehingga siswa dipaksa untuk disiplin dan orang tuanya pun pasrah menyerahkan sepenuhnya kepada guru demi anaknya tidak hanya menjadi anak yang pandai tetapi juga baik dan bisa menghargai orang lain. Berbeda dengan sekarang, sejak diberlakukannya UU tentang perlindungan anak guru sudah dibikin cemas menghadapi anak-anak muridnya. Orang tua siswa pun malah menuntut apabila ada guru yang kehilangan control, contoh kecilnya  seperti menyentil telinga siswa karena sudah tidak bisa diberi peringatan dengan kata-kata. Padahal siswa-siswi sekarang perkembangan perilakunya mungkin jauh berbeda dengan pada waktu zaman dulu. Perkembangan perilaku anak saat ini sudah cepat dipengaruhi kaena media-media yang sudah merajalela. tontonan-tontonan yang menggambarkan kekerasan, tontonan-tontonan yang membudayakan pacaran yang merupakan faktor terbesar dalam perzinahan.
Dari segi orang tua, saat ini anak sudah kurang dari kontrolan kedua orang tuanya, khususnya ibu. Dimana seorang ibu sekarang perannya sudah bergeser dengan harus bekerja mencari nafkah demi membantu suami tercintanya, sehingga anak hanya memiliki sedikit waktu bimbingan langsung dari ibunya. Kondisi seperti yang telah saya sebutkan di atas, merupakan pemicu terhadap perkembangan ketidak baikan kelakuan anak. Sehingga anak menjadi liar dan sulit diberi peringatan oleh guru-gurunya.

Selain fakto-faktor tersebut diatas, menarik untuk dicermati, Ling Mijaya dalam makalahnya yang berjudul Beda Pendidikan Jaman Dulu dan Jaman Sekarang menyebutkan bahwa terdapat empat perbedaan antara pendidikan zaman dulu dan zaman sekarang antara lain:

1.      Oreintasi Pendidikan

2.      Isntitusi Pendidikan
3.      Tenaga Pendidik
4.      Materi Pendidikan
Dalam poin tiga mengenai tenaga pendidik, Ling Mijaya menyatakan bahwa antara tenaga pendidik zaman dulu dengan zaman sekarang perbedaannya adalah  :
a.       Tenaga Pendidik zaman dulu
Pada jaman ini seseorang memilih menjadi guru lebih terdorong oleh hasrat dalam diri untuk membaktikan diri. Ia memahami konsekuensi menjadi guru adalah melayani, dan sudah sadar bahwa ia tidak akan kaya seperti seorang pengusaha. Di era 1980-n seorang guru yang mempunyai kemampuan lebih bisa memberikan les privat di luar jam sekolah, itu adalah pemasukan tambahan selain gaji pokok sebagai seorang guru. Ada juga yang membuka warung kecil-kecilan untuk menambah lauk di rumah. Belum lagi di daerah terpencil, tenaga mereka dihargai dengan hasil lading orang tua murid. Maka di jaman itu kita sering mendengar istilah: “Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa.”
Guru pada jaman itu merupakan suatu profesi yang sangat terhormat, karena dianggap memiliki pengetahuan lebih daripada masyarakat setempat. Masyarakat juga menuntut para guru mengajarkan nilai moral kepada anak-anak mereka, di samping pengetahuan baca tulis dan berhitung. Guru juga punya hak otoriter sebagai pengganti orang tua bila anak berada di sekolah. Cara mendidik mereka lebih banyak menggunakan pendekatan pribadi yang membuat interaksi guru murid lebih erat. Hal ini terbawa sampai di luar jam sekolah karena kondisi social masyarakat jaman dulu yang lebih bersifat kekeluargaan.
b.      Tenaga Pendidik Jaman Sekarang
Perekrutan tenaga pendidik sekarang (baca: Mayoritas) lebih mengutamakan nilai kelulusan dan sertifikasi yang dimiliki guru tersebut. Apakah guru tersebut sudah pasti kompeten mengajar dengan kelulusan yang bernilai tinggi dan banyaknya sertifikat yang dimiliki? Belum tentu. (Maaf, tidak ada sedikit pun maksud saya untuk menyamaratakan dedikasi dan porensi semua guru). Namun sudah menjadi pengetahuan umum bahwa sekolah-sekolah yang ingin merekrut guru di samping pengalaman minimal 1 atau 2 tahun juga meminta bukti berupa sertifikat yang dimiliki guru tersebut sebagai bukti bahwa ia mempunyai ‘skill’ lebih. Tuntutan ekonomi membuat dedikasi mengajar sebagai suatu pelayanan menjadi berkurang. Bisa dimaklumi karena media apapun sekarang berlomba menawarkan barang konsumsi. Guru juga seorang manusia, ia punya keluarga yang harus dihidupi. Di jaman sekarang tuntutan ekonomi seakan tidak pernah habis, malah selalu naik setiap tahunnya.[1]
Berdasarkan keterangan yang disampaikan Ling Mijaya di atas, maka penulis memberikan kesimpulan bahwa saat ini guru harus kembali dapat menanamkan rasa dedikasinya yang tinggi terhadap dunia pendidikan,  disamping mengejar materi karena kebutuhan. Dan menurut saya itu sah-sah saja selama materi yang kita cari tujuannya adalah untuk menghidupi anak dan istri sekaligus ingin membela agama Allah (bershodaqoh dan berzakat). Dengan semua itu insya  Allah ilmu yang disampaikan ke anak muridpun menjadi barokah dan anak muridpun tidak akan meremehkan sang guru lagi. Yah, karena kepribadian guru yang dilandasi nilai-nilai Ketuhanan akan membuat siswa tidak akan berani meremehkan guru.










[1] http://edukasi.kompasiana.com/2012/11/08/beda-pendidikan-jaman-dulu-dan-jaman-sekarang-501541.html

No comments: